Merantau
https://ekonopyanto.blogspot.com/2016/01/merantau.html

Jauh-jauh hari Imam Syafii telah berseru untuk hijrah, “Pergilah dari
rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal
hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.” Bukan
sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina,
kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya
dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.
Menyikapi hijrah dan menjelajah, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai
perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia
mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya.
Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah,
manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya
dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat
asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Lagi pula, hijrah dan menjelajah telah dilakukan oleh nabi-nabi
terdahulu. Boleh dibilang, hampir semua nabi, temasuk Adam, Nuh,
Ibrahim, Ismail, Yakub, dan Musa. Nabi Muhammad sendiri, sebelum hijrah
ke Madinah, pernah hijrah ke Taif namun tertolak oleh penduduk Taif.
Abdurrahman bin Auf pernah hijrah ke Afrika dan Taif. Saad bin Abi
Waqqash kemudian hijrah ke China. Adapun Isa lahir
di Bethlehem,Palestina. Ketika kecil, Isa bersama ibunya pernah hijrah
ke Mesir.
Sedemikian pentingnya hijrah, sampai-sampai para sahabat menjadikan
peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender, bukan Isra’ Mi’raj, Maulid
Nabi, Nuzul Al-Qur’an, atau peristiwa bersejarah lainnya. Ayo hijrah!
Ayo merantau!